Let Me Go, Let You Go

sad-love-quotes-people-change-memories-heart-broken-pics-pictures-sayings

Let Me Go, Let You Go

.

Story about my bias, Cho Kyuhyun

.

.

.

“Hana!”

Gadis kecil yang duduk diam di ayunan tak menggubris panggilan yang diserukan untuknya. Dia tetap tak bergeming dan menundukkan kepalanya. Bibirnya melengkung turun dan sedikit mengerucut maju menandakan bahwa dia sedang dalam kondisi hati yang tidak menyenangkan.

“Hana!”

Sekali lagi namanya dipanggil, namun ia tak menoleh. Ia sudah tahu siapa yang sedang memanggilnya, suara berat seorang pria dewasa yang begitu disukainya, dan ia tak bohong, bahwa sedari tadi, pemilik suara itulah yang sedang ditunggunya.

“Cho Hana!”

Akhirnya pria itu mendekat setelah sedari tadi ia hanya berdiri di samping mobilnya yang terparkir di luar halaman rumah bermain itu.

“Cho Hana, kenapa kau diam saja? Kau tak dengar Appa memanggilmu sedari tadi?”

Mendengar nada marah appanya, Hana mendongakkan kepalanya sedikit untuk melihat wajah appanya. Setelah itu ia kembali menundukkan kepalanya lagi.

“Appa terlambat…” Lirihnya.

Pria itu terdiam, lalu helaan nafas terdengar dari bibirnya. Akhirnya ia tahu apa yang sedang terjadi pada Hana, gadis kecilnya. Hana merajuk, karena ia terlambat menjemputnya di rumah bermain. Ia melihat pada jam yang melingkari pergelangan tangannya. Ternyata ia sudah terlambat hampir satu jam.

“Mianhe…” Pria itu berjongkok, menyamakan tingginya dengan Hana yang masih duduk di ayunan.

Satu belaian lembut di pipi kirinya Hana dapatkan dari tangan besar appanya. Dan cara ini bisa meluluhkan Hana dengan cepat. Hana selalu suka belaian lembut appanya, karena ia dapat merasakan betapa ia begitu disayangi. Tentu saja, Hana tak memiliki saudara. Dan ia hanya tinggal berdua dengan appanya. Ah, ada tambahan seorang bibi yang membantu memasak dan membersihkan rumah tentunya. Bibi Kim.

Sekali lagi Hana mendongak, menatap appanya yang kini tengah menunjukkan wajah penuh sesal. Kini appanya yang merajuk, dan Hana tak bisa membiarkan kesedihan ada di wajah appanya.

“Apa Donghae Ahjussi lagi-lagi memberikan Appa pekerjaan yang begitu banyak?” Tanyanya dengan polos.

“Ah…iya…banyak sekali…dan Appa harus menyelesaikannya sebelum datang kemari. Makanya Appa terlambat. Maafkan Appa ya?”

Hana tak perlu memikirkan apakah ia harus percaya atau tidak dengan alasan sang appa. Yang ia tahu, Donghae ahjussi adalah teman appanya di kantor dan suka sekali membawa banyak kertas ke meja appanya. Hana sering melihatnya jika ia sedang berkunjung ke kantor appanya.

Saat ini di hadapannya ia mellihat si appa menangkupkan kedua tangan di depan wajah dengan gaya memohon, memintanya untuk memaafkan keterlambatannya.

Hana tersenyum, ia meloncat cepat untuk meraih jemari appanya lalu menciumnya, pertanda ia sudah tak marah lagi. Ia lalu menghambur ke dalam pelukan appanya.

Sang appa tersenyum, ia lalu mengangkat Hana dalam gendongannya, membawanya menuju mobil untuk pulang ke rumah nyaman mereka.

“Hana sayang appa” Ucapan tulus itu keluar dari bibir mungil Hana.

“Benarkah? Appa yang mana?” Goda pria tinggi itu pada gadis kecilnya.

“Tentu saja Cho Kyuhyun Appa yang paling tampan ini!” Tunjuk Hana ke dada Appanya.

Sang appa tergelak mendengar jawaban Hana, ia lalu memberikan ciuman di pipi kanan Hana “Anak pintar, Appa juga begitu menyayangimu”

.

.

“Yuhuuuuuuuu~~~ aku datang~~”

Kyuhyun tersentak kaget saat suara lengkingan yang begitu panjang menyapa telinganya. Tepat di depan telinganya.

“Heechul hyung! Bisakah kau tidak usah bertingkah seperti angin ribut!?” Kyuhyun mengusap telinganya yang kini terasa panas dan berdengung. Acara duduk santainya di tepian kolam renang sambil membaca buku terganggu sudah. Ia melempar bukunya asal ke kursi di sebelahnya, lalu mengambil gelas jus dan meminumnya.

“Ahahaha…aku hanya memastikan apakah jantungmu masih berdetak atau tidak” Sambung Heechul dengan cueknya. Heechul mendudukkan dirinya di kursi di sebelah Kyuhyun. Tangannya bersedekap, dan kaki kirinya ia silangkan pada kaki kanannya.

Kyuhyun melirik Heechul yang sedang menirukan gaya duduknya

“Ck” Kyuhyun hanya mampu berdecak sebal menanggapi tingkah Heechul. Ia lalu memilih mengabaikan Heechul dan memandang lurus ke depan. Ke arah kolam renang kecil yang terbuat dari plastik dimana putri kecilnya sedang bermain air bersama bibi Kim. Tentu saja Hana belum bisa menggunakan kolam renang besar miliknya.

“Yuhuuuu~~ Princessss~~”

Heechul memanggil Hana dengan lantang, tak peduli dengan Kyuhyun yang saat ini kembali mengusap telinganya.

Di depan sana, Hana menoleh dan melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar merespon panggilan Heechul. Lalu ia segera bangkit dan keluar dari kolam, berlari ke arah Heechul dan Kyuhyun.

“Lady Heenim, apa kau akan mengajakku berjalan-jalan?” Tanya Hana begitu ia sampai di depan Heechul. Di belakangnya, bibi Kim berjalan tergopoh-gopoh sambil membawakan handuk Hana untuk mengeringkan tubuhnya.

Heechul mengangguk dan menunjukkan senyum cantiknya “Tentu saja, Princess. Sore yang indah begini harus kita nikmati dengan berjalan-jalan. Bukan dengan membaca buku” Ucapnya.

Berkebalikan dengan Kyuhyun yang saat ini sedang melirik sinis Heechul akibat sindirannya, Hana justru melompat senang mendengar ucapan Heechul

“Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku akan segera berganti baju dan bersiap untuk pergi bersama Lady Heenim” Ucap Hana dengan penuh semangat.

“Pakai baju yang cantik ya”

“Tentu saja, karena Lady Heenim memakai celana merah, aku akan memakai baju merah mini mouse”

“Memangnya Appa sudah memberi ijin?” Tiba-tiba ucapan Kyuhyun menginterupsi pembicaraan mereka. Tapi sepertinya ucapannya tak berpengaruh apapun. Tanpa diduganya tangan kecil Hana menarik wajahnya dan Hana memberi kecupan singkat di bibirnya.

“I Love You, Appa!”

Tak peduli apakah Appanya memberi ijin atau tidak, tapi Hana tahu bahwa Appanya tidak pernah melarangnya pergi bersama Lady Heenim. Ia berlari masuk ke dalam rumah untuk segera berganti pakaian dan bersiap untuk pergi.

Di samping Kyuhyun, Heechul terkikik menahan tawanya. “Pintar sekali dia, kau tak salah memilihnya saat dulu.”

Kyuhyun hanya bisa tersenyum kecil mendengar ucapan Heechul. Ia bergerak meregangkan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia lalu menghela nafas kemudian menghembuskannya pelan, berusaha untuk merilekskan tubuhnya.

“Ya, entahlah…dulu saat pertama bertemu dengan Hana, ia yang saat itu sedang menangis dalam gendongan bibi panti langsung terdiam saat melihatku. Setelah itu ia terus menatapku, membuat perhatianku pun hanya terpusat padanya. “

Heechul mengangguk “Ia memang selalu menarik perhatian. Kini ia tumbuh begitu cantik. Aku tak percaya ternyata kau bisa merawatnya hingga tiga tahun ini”

“Hm…Hanya bersama Hana saja aku sudah merasa cukup. Aku tak lagi merasakan kesepian.”

Lalu keduanya terdiam untuk menikmati kedamaian akan suasana hening yang terjadi. Angin berhembus lembut, menimbulkan riak kecil pada air kolam. Heechul menoleh ke samping, melihat pada dahi Kyuhyun yang terbuka akibat rambut hitamnya yang tersibak hembusan angin. Ada luka jahitan yang terlihat disana.

“Kau tak berusaha menghilangkannya?” Heechul menyentuh pelan bekas luka di dahi Kyuhyun

Kyuhyun tersenyum dan menggeleng “Tak perlu, ini yang membuktikan bahwa kecelakaan saat itu membuatku kehilangan sebagian memoriku”

“Apa kau merasa kehilangan sesuatu? Kau bilang kau sudah merasa cukup, bukan? Kehidupanmu yang sekarang sudah berjalan begitu normal.”

“Entahlah…aku sendiri tak mengerti apa yang kucari…tapi…terkadang ada sebuah perasaan yang membuatku begitu sedih. Hingga membuatku selalu ingin menangis”

Heechul terdiam, wajahnya berubah sendu. Ia hanya terus menatap Kyuhyun disampingnya. Hingga suara Hana yang memanggilnya membuatnya segera tersadar.

“Lady Heenim, aku sudah siap! Ayo cepat!” Hana melambaikan tangannya memanggil-manggil Heechul. Ia berjingkrak-jingkrak tak sabar membuat bibi Kim kesulitan untuk memasangkan pita merah di rambutnya.

“Oke!” Heechul segera berdiri dan menyahut panggilan Hana. “Apa sore ini kau akan menghabiskan waktu di coffee shop itu lagi?” Tanya Heechul pada Kyuhyun sebelum ia benar-benar beranjak pergi.

“Ya…aku akan ke sana” Jawab Kyuhyun disertai anggukan. Ia ikut berdiri mensejajarkan diri nya dengan Heechul.

“Jadwal rutin setiap weekend sore, huh?” Sindir Heechul.

Kyuhyun hanya tertawa pelan. “Aku hanya merasa berada di tempat itu adalah hal yang benar bagiku. Sepertinya jawaban akan rasa sedihku ada disana. Hanya saja, aku tak tahu…ah…lebih tepatnya belum tahu apa itu”

“Lady Heeeniiiimmmmm!!!” Hana berteriak lantang memanggil Heechul sekali lagi pertanda ia sudah tak sabar.

“Ah iya, Princess! Kita berangkat sekarang!” Sahut Heechul

“Hyung!”

“Hm?”

“Kapan kau akan mengajari Hana memanggilmu ahjussi?”

“Sampai bertemu nanti di coffee shop” Tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun, Heechul mengedipkan sebelah matanya dan segera berbalik pergi meninggalkan Kyuhyun yang menggeleng heran melihatnya.

.

.

KLING!

Bel pintu berdenting di coffee shop itu saat Kyuhyun membuka pintunya. Ia melangkah masuk dan berjalan menuju tempat favoritenya. Tempat duduk di pojok kiri, yang hanya tersedia untuk dua orang. Tempat yang bagus dan tepat untuknya menikmati ketenangan yang ada di coffee shop itu. Meskipun letaknya disamping dinding kaca yang membuatnya dapat melihat hiruk pikuk suasana kota Seoul yang tak pernah berhenti beraktivitas, namun tak terdengar suara apapun dari luar. Yang terdengar hanyalah alunan music ballad yang berasal dari coffee shop itu.

Setelah Kyuhyun menyamankan duduknya dan melepas mantelnya, tak lama seseorang datang menghampirinya. Pria yang sama, selalu pria ini yang menemuinya untuk menawarkan pelayanan padanya. Pria pemilik coffee shop.

“ Bagaimana kabar anda, Tuan? Sore yang indah ya…” Sapa pria itu sambil membungkukkan badannya sedikit di hadapan Kyuhyun.

Kyuhyun mendongak, matanya menangkap senyum pria itu. Senyumnya indah. Namun Kyuhyun tak pernah bertatapan langsung dengan pria itu. Pria itu selalu bersikap sama. Menyapa dengan suaranya yang bagi Kyuhyun terdengar lucu, namun begitu khas. Pria itu hanya terus menunduk menatap ke bawah dengan senyumnya yang tak pernah hilang dari bibirnya.

“Hm, kabar baik. Aku pesan yang seperti biasa” Ucap Kyuhyun, sambil masih menatap pria pemilik coffee shop.

“Baik, mohon ditunggu sebentar. Pesanan anda akan segera datang”

Pria itu pergi dan pandangan Kyuhyun masih mengikutinya. Pria pemilik coffee shop tak lebih tinggi dari Kyuhyun. Badannya tak kurus, namun tak begitu gemuk juga. Kulitnya putih, meski tak sepucat milik Kyuhyun. Hidungnya mancung, tapi bentuknya lebih kecil dari hidung Kyuhyun, membuatnya terlihat lancip. Rambutnya sedikit ikal, dan hitam, seperti milik Kyuhyun.

Kyuhyun segera mengerjapkan matanya saat sosok pria itu menghilang di balik pintu pantry. Kyuhyun menggeleng sendiri mendapati dirinya yang baru saja secara tak sadar mendefinisikan sosok pria si pemilik coffee shop

Kyuhyun melihat ke luar dinding kaca. Dilihatnya orang-orang berlalu lalang mengejar kesibukan masing-masing. Kyuhyun membuang nafasnya berat. Perasaan sedih kembali melandanya. Rasa sakit sedikit terasa di dadanya. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan coffee shop. Dan perasaan itu bertambah kuat. Rasanya begitu menyedihkan, dan terasa sakit.

“Kopi hitam pesanan anda, Tuan” Pria pemilik coffee shop datang membawa pesanan Kyuhyun. “selamat menikmati”

Kyuhyun langsung menyeruput kopinya, merasakan pahit yang dirasanya begitu pas dilidah. Mengalir membasahi kerongkongannya dan sampai di dadanya, lalu turun menuju lambungnya. Kyuhyun merasa, rasa pahit kopi hitam terasa begitu cocok dengan perasaan sakit yang dirasa di hatinya.

“Kau pemilik coffee shop ini, bukan?” Tanya Kyuhyun.

Sudah menjadi kebiasaan pula, pria itu tak langsung pergi. Namun ia akan duduk di hadapan Kyuhyun dan menemani Kyuhyun menghabiskan kopinya sambil terus menikmati pemandangan di luar dinding kaca. Sesekali pria itu akan merespon ucapan-ucapan Kyuhyun yang didengarnya.

“Ya, tuan”

“Kenapa kau yang selalu melayaniku? Bukan para pegawaimu?” Tanya Kyuhyun, matanya masih menatap ke luar dinding kaca.

“ Karena anda special, Tuan. Dan saya tahu anda merasa nyaman dengan saya” Pria pemilik coffee shop itu menjawab. Ia meluruskan pandangannya, tanpa menghilangkan senyum tipisnya, matanya kini menatap lurus ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun terhenyak, beberapa detik, pandangan mereka seakan saling tarik menarik. Denyutan sakit di dada Kyuhyun tiba-tiba semakin terasa nyata.

Sorot mata gelap itu tak memancarkan jiwa yang hidup sama sekali. Perasaan sepi dan hampa Kyuhyun rasakan lewat mata itu. Ini pertama kalinya bagi Kyuhyun, mereka bertatapan langsung seperti ini.

Pandangan Kyuhyun turun ke arah dada kiri pria pemilik coffee shop, dan disana Kyuhyun mendapati tulisan “Sung…min?”

Kyuhyun kembali menatap pria itu, yang masih bertahan dengan ekspresinya. “Namamu Sungmin?”

Pria itu mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Kyuhyun.

“Aku baru tahu. Lagipula, kenapa baru hari ini kau memakainya? Biasanya kau tak memakai name tag mu” Tanya Kyuhyun penasaran. Setelah sekian lama ia datang ke coffee shop ini, baru hari ini dia mengetahui nama pria itu. Sungmin.

“Aku ingin hari ini kau tahu namaku, Tuan” Sungmin masih terus menatap Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk mengerti. Ia memilih tak mempermasalahkannya. Lalu keduanya kembali diam, dan fokus dengan pemandangan di luar coffee shop.

“Aku ingin tahu…” Kyuhyun mulai membuka suara kembali “Kenapa setiap datang ke coffee shop ini, kesedihan yang aku rasakan terasa semakin menguat”

Lama Sungmin terdiam hingga akhirnya iapun bersuara. “Ingin mendengar ceritaku?”

.

“Dulu aku begitu dekat dengan seseorang. Dia pria, umurnya lebih muda dariku. Namun justru dialah yang selalu menjagaku dimanapun aku berada”

Kyuhyun menyimak dengan seksama, tanpa melepaskan pandangannya dari luar dinding kaca.

“Perasaan sayangnya begitu tulus, membuatku merasa nyaman berada di dekatnya. Aku merasa terlindungi. Sebisa mungkin aku menuruti segala kemauannya, memanjakannya dan mengurus segala kebutuhannya. Ketergantungan mengikat kami. Milikku adalah miliknya, dan sebaliknya. Kesukaan kami pun sama. Hingga aku merasa satu nafas dengannya. Hanya dia.”

Sungmin kembali terdiam. Membuat suasana hening, hanya alunan musik ballad yang terdengar di telinga.

Kyuhyun belum berkomentar apapun. Tapi ia bisa merasakan denyut sakit di dadanya semakin kuat mencabiknya. Sementara di hadapannya Sungmin sedang berkonsentrasi mengatur nafasnya, untuk kembali melanjutkan ceritanya.

“Lalu suatu hari aku membuat keputusan, yang membuatnya tak punya alasan lagi untuk tetap disampingku. Dia pergi, benar-benar pergi. Meskipun sosoknya ada, tapi cintanya sudah pergi, hatinya sudah pergi. Tak ada lagi aku di hatinya. Bahkan dalam ingatannya pun aku sudah tak ada”

Suaranya mulai bergetar, emosi kesedihan begitu terasa dalam suaranya. Sungmin menggigit bibirnya, dan ia mengepalkan tangannya di atas lututnya.

Kyuhyun mengangkat tangannya menuju dada, ia meremas kuat pakaiannya. Sakit, Kyuhyun tak tahan lagi dengan rasa sakitnya.

“Kenapa kau membuat keputusan itu? Kau menyakiti dirimu sendiri, bukan? Dan kau… menyakitinya” Tanya Kyuhyun, matanya beralih menatap Sungmin.

“Karena kami harus menjalani hidup yang seharusnya. Sepantasnya. Dan aku tak peduli akan waktu. Cepat atau lambat, semuanya akan sama”

Ucapan Sungmin barusan adalah puncak dari segala emosi. Emosi bagi keadaan keduanya, Sungmin dengan cerita masa lalunya, dan Kyuhyun dengan kesakitannya yang tak ia tahu penyebabnya.

Sungmin mengerjap, matanya kini telah basah karena air mata yang tanpa izin mengalir keluar. Ia kembali mengerjap, dan pandangannya yang kabur tertutupi bulir air terkunci pada mata Kyuhyun yang kini menatapnya penuh luka.

Kesakitan itu sudah ada di titik tertinggi, membuat mata Kyuhyun memanas, dan air mata keluar melalui sudut matanya. Dengan cepat melaju mengaliri pipinya, dan disusul dengan aliran air mata lain yang bertambah deras.

Sungmin tak melepaskan pandangannya sedetikpun dari Kyuhyun, untuk saat ini, sepuasnya, karena ia tak akan lagi menatapnya setelah ini.

“Kami akan hidup masing-masing dengan baik. Aku pastikan dia akan jauh lebih bahagia dibanding aku. Karena dia masih ada dan akan kekal dalam ingatanku. Sedangkan aku sudah tak ada lagi dalam ingatannya.”

Sungmin mengulurkan tangannya, memberanikan diri untuk meraih jemari Kyuhyun yang masih meremas kuat pakaiannya. Dengan kedua tangannya, Sungmin menggenggam tangan Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun, entah tepat atau tidak, tapi biarkan aku meminta maaf. Menyampaikan rasa bersalah yang kumiliki”

Kyuhyun tak menjawab apapun, ia hanya menatap kosong genggaman tangan mereka di atas meja. Dan setelahnya tak ada pembicaraan apapun antara mereka. Hening dan hampa. Ketenangan membuat emosi secara perlahan menipis, dan dengan pasti menutup luka hati yang dirasakan meskipun tak akan pernah terhapuskan.

Hingga petang menyapa langit Seoul dan air mata telah mengering, Kyuhyun beranjak dari duduknya. Ia mengambil mantelnya dan memakainya.

“Aku tak akan datang lagi kemari.”

Sungmin mendongak pelan, menatap Kyuhyun. Wajahnya sendu, datar tanpa ekspresi.

“Aku akan meninggalkan kesedihanku disini. Aku tak akan membawanya lagi.”

Bibir Sungmin melengkung membentuk senyum tipis saat mendengar ucapan Kyuhyun. Dia ikut berdiri, dan melangkah bersama Kyuhyun menuju pintu keluar coffee shopnya

“Berbahagialah. Jaga dirimu baik-baik. Selamat jalan.” Ucapan itu keluar dari bibir Sungmin saat ia sudah sampai di pintu untuk mengantar Kyuhyun pergi.

Kyuhyun mengangguk dan tersenyum kecil “Selamat tinggal” Lalu ia berbalik, dan saat itu juga ada seorang wanita yang tergesa memasuki coffee shop sehingga menabrak bahunya.

Si wanita langsung membungkuk meminta maaf pada Kyuhyun. Setelah Kyuhyun keluar dari coffee shop, Sungmin tak berhenti untuk terus menatapnya, dan ia melihat ada seorang pria di depan coffee shopnya, sedang menggendong anak kecil.

Sungmin mendengar anak kecil itu memanggil Kyuhyun ‘Appa’ dan menghambur senang ke pelukan Kyuhyun. Kyuhyun tertawa, bersama dengan pria di sebelahnya. Setelah itu mereka berjalan bersama, meninggalkan coffee shop yang mungkin tak akan pernah lagi mereka datangi.

“Yeobo? Apa yang kau lihat?” Sapa wanita itu kepada Sungmin. Wanita itu mengikuti arah pandangan Sungmin. “Siapa dia? Kau mengenalnya?”

Sungmin mengangguk “Seorang pelanggan, yang tak akan pernah datang lagi”

Setelah itu Sungmin berbalik, berjalan menuju pantry, meninggalkan istrinya yang terbengong di dekat pintu.

.

.

“Mata Appa bengkak, apa Appa habis menangis?” Hana duduk di pangkuan Kyuhyun, badannya menghadap ke arah Kyuhyun. Di sampingnya Heechul menyetir mobil dengan santai untuk membawa mereka pulang ke rumah.

“Tadi Appa sedih, tapi sekarang sudah tidak lagi” Kyuhyun tersenyum saat Hana mengusap wajahnya membersihkan sisa-sisa air mata yang sudah mengering.

“Kalau begitu, malam ini Hana tidak akan bermain dengan Lady Heenim. Hana akan bermain dengan Appa saja agar Appa tak bersedih lagi” Ucap Hana sambil tersenyum, ia terus mengusap pipi Appanya dengan tangan mungilnya.

“Terimakasih, sayang” Kyuhyun mencium kening Hana dan membawanya ke dalam pelukannya.

“I Love You, Hana”

“I Love You, Appa”

Heechul hanya tersenyum menyaksikan kehangatan yang terjadi di sampingnya. Tampaknya malam ini ia harus menunda kesenangannya untuk bermain cosplay Elsa dan Anna bersama Cho Hana.

.

.

END

5615937_orig

.

.

Happy Birthday Mumu…. 🙂

Aku tetap berusaha memenuhi permintaanmu, tapi mohon maaf jika tak sesuai harapan. Aku benar-benar tak bisa menulis tentang mereka lagi. Bagiku sekarang tak ada Kyu*** lagi, hanya ada Kyuhyun dan Super Junior. Dan ‘dia’ adalah bagian dari Super Junior meskipun dia hanyalah seorang nugu member. Karena aku menghormati Leeteuk dan member lain, jadi keberadaan ‘dia’ tak bisa diabaikan, kan?

Bagiku Fic ini Happy Ending lho, hehe

Ya sudah, Wish U All The Best Mumu ❤ Hwaiting!!!

PS : Untuk Nana yg lagi ujian, Sukses! Aku pinjam istilah nugu membernya. XD

Iklan